Sarasehan Santri Masa Kini 5.0

Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah, menggelar sarasehan untuk memperingati Hari Santri Nasional di Ballroom Baiturrahman Semarang, Senin (26/10/2026). 

Sarasehan yang dipandu oleh Ketua Takmir Masjid Raya Baiturrahman Dr. H. Multazam Ahmad, M.A. mengusung tema ”Menguasai Teknologi, Merawat Tradisi dan Menjaga Akidah”. Dalam kesempatan tersebut hadir sejumlah tokoh pesantren dan para santri dari 14 pondok peantren di Kota Semarang dan sejumlah siswa SMK Islamic Centre Baiturrahman.

Para tokoh pesantren yang hadir sebagai nara sumber, diantaranya, Ketua Umum YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jateng Dr. KH. Ahmad Darodji, M.Si., Dr. (HC) KH. Shodiq Hamzah Usman, Dr. KH. Fadholan Musyafa’, M.A., Dr. KH. Abdul Ghaffar Rozin. M.Ed., dan Dr. KH. Anasom, M.Hum.

Ketua Umum YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah KH. Ahmad Darodji mengingatkan, Hari Santri merupakan momentum mengenang perjuangan ulama dan santri, terutama melalui Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

“Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, santri masa kini menghadapi tantangan berbeda. Mereka dituntut menguasai ilmu agama sekaligus mengembangkan keterampilan agar mampu berkontribusi dalam pendidikan, kepemimpinan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tutur Kiai Darodji.

Ketua I YPKPI Masjid Raya Baiturrahman KH. Anasom menekankan pentingnya menyiapkan santri menghadapi perubahan dunia kerja akibat otomatisasi dan robotisasi. Penguasaan teknologi harus meningkatkan produktivitas dan daya saing, sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.   

Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin mengingatkan, keterbukaan terhadap perubahan harus tetap disertai upaya menjaga kemandirian pesantren. Evaluasi juga diperlukan, termasuk membenahi persoalan kekerasan agar pesantren menjadi ruang pendidikan yang aman bagi santri.  

Pengasuh Pondok Pesantren Fadlu Fadlan Mijen, KH Fadholan Musyafa’, mengatakan bahwa teknologi dapat membantu meningkatkan efektivitas pendidikan pesantren. Digitalisasi bisa diterapkan untuk mengelola kegiatan belajar, memantau kehadiran santri dan guru, serta memudahkan komunikasi dengan orang tua. Karena itu, kiai dan tenaga pendidik juga perlu melek teknologi agar mampu membimbing santri menggunakannya secara tepat. Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Asshodiqiyah Semarang KH Shodiq Hamzah Usman mengingatkan bahwa identitas santri tidak cukup sebatas pengakuan, tetapi harus dibangun melalui proses belajar dan pembentukan akhlak. Santri masa kini harus berani menjelajah dunia digital, tetapi tetap berpijak pada tradisi keilmuan dan akidah agar mampu menghadapi masa depan tanpa kehilangan arah. 007

 

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021-2024, All Rights Reserved